Home / Berita / Bagai Pisau Bermata Dua, JAPELIDI dan ASPIKOM Ingatkan Generasi Muda Jangan Terjebak Kemudahan Fintech

Bagai Pisau Bermata Dua, JAPELIDI dan ASPIKOM Ingatkan Generasi Muda Jangan Terjebak Kemudahan Fintech

SEMARANG, LPMMISSI.COM – Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) bersama dengan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) dan Trimegah Sekuritas mengadakan seminar Literasi Fintech yang bertema “Anak Muda Smart Financial User” pada Jumat (8/5/2026) bertempat di American Corner Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. Seminar ini membahas pentingnya kesadaran bagi generasi muda dalam menghadapi teknologi finansial yang semakin pesat.

Dihadiri oleh mahasiswa dan peserta umum, kegiatan tersebut berisi diskusi mengenai keamanan digital dan pengelolaan finansial di era teknologi.

Pembicara pertama, Lilek Budiastuti Wiratmo, menyoroti tentang perubahan perilaku generasi muda yang kini semakin bergantung pada kemudahan teknologi. Menurut Lilek, akses digital yang serba cepat membuat masyarakat terbiasa dengan sesuatu yang instan.

“Anak muda sekarang lebih suka yang instan,” ujarnya dalam sesi seminar.

Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan pemahaman literasi digital yang memadai. Ia menjelaskan bahwa peningkatan akses internet tanpa kemampuan menyaring informasi justru dapat menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari kesalahpahaman hingga maraknya penipuan digital.

Baca juga: Tolak Eksploitasi, LPM Missi Gelar Diskusi dan Nobar Film Dokumenter Pesta Babi

Beliau juga menekankan bahwa kemudahan transaksi di era fintech membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi memudahkan aktivitas masyarakat, tetapi di sisi lain membuka peluang terjadinya penyalahgunaan teknologi.

“Teknologi tidak bisa dihindari, tapi balik lagi dari diri sendiri yang bisa menyaring informasi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap berbagai tawaran yang terlihat menguntungkan di ruang digital. “Sesuatu yang mudah terkadang justru dapat menjebak kita,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Lilek juga menegaskan bahwa tingkat literasi yang tinggi sangat berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan secara lebih baik. Menurutnya, pemahaman terhadap fintech tidak cukup hanya sebatas mengetahui cara menggunakannya, tetapi juga memahami risiko di balik kemudahan tersebut.

Sementara itu, narasumber kedua, Astini Kumalasari, mengajak peserta untuk lebih sadar terhadap data digital pribadi yang sering kali dibagikan tanpa disadari. Ia menjelaskan bahwa aktivitas kecil di media sosial sebenarnya dapat menjadi sumber data yang bernilai bagi sistem digital.

“Yang kita berikan sebenarnya bukan hanya data, melainkan potongan kehidupan kita dalam bentuk digital,” ungkapnya.

Menurut Astini, tidak semua aplikasi memiliki tujuan menyalahgunakan data pengguna. Namun, semakin besar akses yang diberikan kepada sebuah aplikasi, maka semakin besar pula peluang data tersebut dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

Ia juga menyinggung kebiasaan masyarakat yang sering aktif menggunakan media sosial atau berbelanja daring pada malam hari, terutama sekitar pukul sebelas malam. Menurutnya, fenomena tersebut bukan terjadi secara kebetulan.

“Generasi sekarang hidup dalam ekosistem digital yang mempermudah konsumsi,” jelasnya.

Sistem digital, lanjutnya, mampu membaca pola aktivitas pengguna, termasuk waktu ketika seseorang paling aktif menggunakan media sosial. Karena itu, berbagai promosi dan diskon sering dimunculkan pada jam-jam tertentu untuk menarik perhatian pengguna.

Di akhir sesi, Astini mengingatkan bahwa tantangan terbesar di era digital bukan hanya soal menjaga uang, tetapi juga menjaga kesadaran dalam menggunakan teknologi. “Di era sekarang yang semakin mudah ini, yang perlu kita jaga bukan cuma uang, tapi juga kesadaran kita,” tutupnya.

Penulis: M. Alfin nizar
Editor: Ayu Trianasari

Tag:

Tinggalkan Balasan