SEMARANG LPM MISSI.COM— Menyelesaikan tugas akhir atau skripsi sering kali dianggap sebagai hal yang menakutkan bagi sebagian besar mahasiswa. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Tahayu Unnihayah. Wisudawan terbaik dari program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) ini justru berhasil melewati masa-masa akhir perkuliahannya dengan sangat tenang dan enjoy.
Mahasiswi asal Demak tersebut sukses menuntaskan studi sarjananya dalam waktu 3 tahun 9 bulan dengan raihan IPK 3,7 pada Kamis (21/05). Kuncinya ternyata terletak pada persiapan matang dan pendekatan spiritual yang ia lakukan jauh-jauh hari.
Tahayu membagikan trik mudahnya dalam menghadapi skripsi yang kerap membuat mahasiswa stres. Menurutnya, kelancaran proses tugas akhir sangat dipengaruhi oleh kemudahan komunikasi dengan dosen pembimbing. Untuk mendapatkan hal itu, ia mengandalkan kekuatan doa atau “jalur langit”.
”Sebelum mengerjakan skripsi, tepatnya saat semester empat, lima, dan enam, saya sudah mempunyai keinginan dan berdoa, ‘Ya Allah, semoga saya mendapatkan dosen pembimbing yang enak (mudah berkomunikasi)’. Setiap setelah salat lima waktu, saya konsisten mengirimkan hadiah Al-Fatihah kepada dosen pembimbing saya agar diberi kemudahan. Tentu tidak lupa juga meminta doa restu dari orang tua,” ungkapnya.
Baca juga: “Pesta” Kebaikan di Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah
Lewat ikhtiar spiritual tersebut, Tahayu mengaku proses bimbingan hingga pengolahan data skripsinya berjalan sangat lancar tanpa hambatan serius.
Dalam skripsinya, ia mengangkat judul yang relevan dengan isu sosial saat ini, yaitu “Ketidakadilan Gender dalam Film Perdana Pembuktian Cinta”. Melalui penelitian ini, Tahayu ingin membuktikan bahwa setiap manusia, tanpa memandang gender, memiliki hak yang setara.
Ia juga menyoroti realitas di lingkungan sekitarnya yang masih sering menempatkan perempuan sebagai kelompok lemah yang tertindas. Meski isu ketidakadilan gender bisa menimpa laki-laki maupun perempuan, stigma masyarakat menurutnya masih kerap menyudutkan perempuan sebagai pihak yang tidak bisa melawan.
”Saya memiliki cita-cita menjadi perempuan yang dapat membawa perubahan,” tegasnya optimis.
Selama berkuliah di FDK, Tahayu mengaku mendapat banyak pengalaman berharga, terutama dalam mendalami dunia broadcasting. Ia berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya agar selalu bersyukur dan berprasangka baik pada setiap proses yang sedang dijalani.
”Apa yang sudah kita kerjakan saat ini adalah rencana Allah yang paling baik. Jadi kalau kita punya rencana, Allah punya kuasa. Syukuri apa yang sedang dihadapi, karena hal tersebut akan membuat hidup kita lebih tenang dan tenteram,” tutur Tahayu.
Di akhir sesi, Tahayu juga membagikan motivasi pentingnya menjaga kesehatan mental selama masa perkuliahan dengan tidak membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
”Teruslah mengejar cita-cita dan goals sebanyak mungkin dengan growth mindset. Jangan pernah bandingkan diri sendiri dengan orang lain agar energi kita tidak terkuras habis,” pungkasnya.
Reporter: Alya Mahda Amalia
Editor: Muhammad Hasan









