SEMARANG, LPMMISSI.COM- Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang diwarnai dengan keluhan terkait fasilitas ibadah, pada Kamis (20/8).
Terbatasnya sarana yang ada membuat para mahasiswa baru harus mengantre panjang hingga terpaksa melangsungkan sholat di tempat non-ibadah.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh para peserta karena dinilai kurang nyaman dan memakan waktu cukup lama hanya untuk menunaikan shalat di tengah padatnya agenda PBAK.
Salah satu mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi, jurusan Manajemen Haji dan Umrah (MHU), Chusnul Khotimah mengungkapkan kesannya terhadap kondisi saat itu
“Hari pertama dan kedua sholatnya kurang efektif karena mepet jam makan. Susah sholat karena malas mengantre kamar mandi. Fasilitas kurang mendukung, jadi melaksanakan sholat di labda,” ungkap Chusnul saat diwawancara di lokasi.
Baca juga: Mahasiswa MHU Melonjak 300%, Fasilitas dan Dosen Tak Bertambah
Sementara itu, mahasiswa baru Fakultas Kedokteran, Neszya Oktavia juga mengungkapkan bahwa shalat ashar di hari pertama sangat molor dikarenakan pelaksanaan paper mob di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, ketua pelaksana PBAK, Dzikri Hanif Salim menyampaikan bahwa infrastruktur tempat ibadah di UIN Walisongo menjadi salah satu penyebab kendala sholat tersebut. Jauhnya lokasi masjid sampai sedikitnya kamar mandi dan tempat wudhu menjadi salah satu faktor mengapa sholat terkendala dalam rangkaian PBAK setiap tahunnya.
Dzikri Hanif Salim, ketua pelaksana PBAK menyampaikan
“Alasan diadakannya pemindahan venue ke lapangan utama supaya expo ukm ini bisa dilaksanakan secara maksimal,” katanya.
“Kalau kita lihat kampus-kampus UIN lainnya, masjidnya itu besar, sehingga saat waktu sholat, mahasiswa baru bisa diarahkan sholat ke sana. Sementara di sini, selain karena kecil, kamar mandi dan tempat wudhunya juga sedikit. Akhirnya, ada yang malas mengantri, sholat di tempat lain, sehingga akan sulit untuk kembali mengkondisikannya,” ujarnya.
Mahasiswa baru dari prodi Manajemen, Muhammad Fajar Prawirohutomo menyampaikan bahwa ibadah hari pertama molor karena ada kegiatan di luar rundown.
“Hari pertama nya molor karena ada demo dari kakak tingkat, mereka menyuarakan aspirasi mengenai Semarang tenggelam, tapi shalat dhuhur nya aman. Hari kedua dan ketiga ada waktu sholat meskipun molor. Saran saya sebaiknya paper mob dipindah ke hari ketiga agar tidak terjadi kemoloran waktu, karena tabiat orang Indonesia yang suka mengulur waktu,” katanya.
Penulis: Shafwa Nadia
Editor: Alya Mahda









