Transportasi Beraplikasi, Bijaksanakah ?

foto: lpmmissi.com/beritagar.id
LPMMISSI.com – Lembaga riset digital marketing (Emarketer) memperkirakan Indonesia bakal menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone (hp pintar) terbesar no 4 di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Terlepas dari riset tersebut, membuktikan bahwa penggunaan smartphone akan memberikan dampak secara langsung bagi masyarakat. Seperti pada awal tahun 2014 masyarakat Indonesia di hebohkan dengan adanya aplikasi Go-jek.
 Aplikasi Go-jek yang identik dengan helm dan jaket warna ijo tersebut memberikan kemudahan bagi para pengguna jasa transportasi. Dengan adannya aplikasi tersebut pengguna jasa transportasi akan dengan mudah mencari jasa ojek yaitu hanya dengan menggunakan smartphone mereka. Pengguna jasa tidak perlu repot-repot berpanas-panasan  mencari ojek, hanya tinggal klik tulis alamat dimana pengguna jasa stay dan dalam waktu sebentar ojek suadah ada didepan mata.
Apalagi ojek sering sekali digunakan oleh masyarakat perkotaan seperti Jakarta untuk menerobos kemacetan. Gojek pun mulai menjadi trend baru dalam masyarakat kota Jakarta. Namun awal bulan Maret 2016 terjadi unjuk rasa di Ibu Kota Jakarta, dimana ribuan pengunjuk rasa yang mayoritas pengemudi angkutan umun tradisional menolak adannya transportasi beraplikasi seperti Go-jek, Uber dan lain sebagainnya. Pengemudi angkutan umun beralasan transportasi beraplikasi merupakan transportasi illegal, mereka juga tidak membayar pajak kendaraan umum.
Adannya transportasi beraplikasi memberikan dampak secara langsung bagi pengemudi angkutan umum konvensional, mereka mengatakan adannya transportasi beraplikasi  memberikan dampak secara drastis pada pendapatan. Bahkan mereka sering menomboki pengahasilan mereka sendiri.
Aplikasi pada smartphone memang dibuat untuk mempermudah aktifitas manusia, tidak dimunafikkan adannya berbagai pengaruh baik positif maupun negatif. Dampak positif yang dapat diambil dari aplikasi smartphone antara lain memudahkan aktifitas manusia, sedangkan dampak negatifnya manusia menjadi lebih malas dan lebih suka pada segala sesuatu yang bersifat instan dengan seperti ini maka secara tidak langsung kreatifitas dan ide manusia akan berkurang. Selain itu mereka akan kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, karena sibuk dengan smartphone masing-masing.

Sebagai pengguna smarphone beraplikasi tentu masyarakat tidak salah,  apalagi para pengguna jasa tentu lebih memilih aplikasi yang memberikan kemudahan dan keefisienan waktu bagi mereka. Tidak ada yang salah dengan angkutan umum beraplikasi ataupun angkutan umum konvensional asal mereka tetap mematuhi peratran yang ada serta tentu saja untuk siap berkompetensi secara kompetitif. Bijaksana atau tidaknya suatu pilihaan tergantung bagaimana sikap kita menanggapi realitas yang ada.  (Arina Salsabila)

2 thoughts on “Transportasi Beraplikasi, Bijaksanakah ?

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: