Tanpa Sosialisasi, Partai Pengusung Tarik KTM

Suasana Pencoblosan di TPS FDK selasa (19/12) doc : missi

SEMARANG, LPMMISSI.COM Pengumpulan kartu Tanda Mahasiswa (KTM) oleh partai pengusung calon yang maju di Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) masih menjadi pembicaraan hangat. Hal itu dilakukan dari partai untuk mengerahkan massa agar mencoblos ke Tempat Pemungutan Suara (TPS),  Selasa (19/12) di halaman Gedung J Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Shodiq, salah satu mahasiswa jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) menuturkan, pengumpulan KTM dilakukan secara mendadak. Penarikan KTM dilakukan tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu. 

“Yang saya tahu, pengumpulan KTM digunakan untuk memanggil mahasiswa yang akan nyoblos,” tuturnya.

MA, salah satu koordinator penarikan KTM menjelaskan kepada lpmmissi.com. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk mengkoordinir mahasiswa saja agar memenuhi haknya sebagai pemilih. 

“Pengalaman sebelumnya, kalau tidak dikoordinir banyak yang golput. Saya hanya berusaha mendorong mahasiswa agar ikut mensukseskan Pemilwa,”ungkapnya.

Pemilih dikoordinir perkelas dengan meminta KTM, setelah terkumpul kemudian didaftarkan ke panitia Pemilwa untuk dipanggil satu persatu secara acak.

Terkait penarikan KTM yang dilakukan oleh beberapa pihak, Ketua Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) Muhammad Muslihin mengatakan bahwa sudah ada regulasi soal itu. 

Baca Juga: Tak Peduli Kampus, Muleh Wae Nang SMA

“KTM di kumpulkan ketika pencoblosan akan dimulai, terkait teknis pengumpulannya kita serahkan kepada partai. Regulasi kita hanya mengenai teknis pencoblosan saja yakni dengan menunjukkan kartu identitas saat akan mencoblos,” katanya.

Menurutnya, pengumpulan KTM oleh partai tidak menyalahi aturan. Penggunaan KTM sebagai syarat mencoblos hanya untuk memastikan bahwa pencoblos benar-benar mahasiswa UIN  Walisongo.

“Itu salah satu inisiatif partai untuk memobilisasi temen-teman pencoblos agar ikut berpartisipasi menjadi pemilih,” tandasnya.

Dari pantauan lpmmissi.com di lokasi TPS, terlihat banyak KTM tanpa tuan. Karena saat dipanggil panitia pemilik KTM tidak kunjung mendatangi TPS.

Menurut pengamatan MA, banyaknya KTM tanpa tuan rawan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu.

 “Kemungkinan Dema-U menargetkan 700 suara untuk kotak suara di FDK. Namun, saat itu suara yang terkumpul baru mencapai sekitar 600-an suara. Untuk mengantisipasi hal itu maka, mahasiswa yang belum nyoblos atau yang sudah nyoblos di dorong untuk mencoblos kembali menggunakan KTM tanpa tuan itu agar memenuhi target,” katanya.

Berbeda dengan MA, Muslihin mengatakan jika KTM yang tidak digunakan oleh yang bersangkutan akan dikembalikan kepada calon pemilih. 

“Biasanya kita tampung dulu, terus kita serahkan ke partai yang mengumpulkan, atau kita serahkan ke calon terpilih. Kita tidak ikut campur, itu saya serahkan kembali kepada yang bersangkutan,” katanya mengakhiri.

Reporter : Aditia Ardian (MG16)
Editor      : Muh. Khabib Zamzami

Leave a Reply

Contact Us

%d bloggers like this: