Nick Mars - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Minima incidunt voluptates nemo, dolor optio quia architecto quis delectus perspiciatis. Nobis atque id hic neque possimus voluptatum voluptatibus tenetur, perspiciatis consequuntur.

Menjadi Wisudawan Terbaik S2 KPI, Anggita Ingatkan Kalau Pacu Jalur Bukan Sekedar Pariwisata.

Menjadi Wisudawan Terbaik S2 KPI, Anggita Ingatkan Kalau Pacu Jalur Bukan Sekedar Pariwisata.(foto: UIN Walisongo)

SEMARANG, LPMMISSI.COM- UIN Walisongo Semarang baru saja menggelar pelepasan dan pembekalan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) S1 yang ke-100 dan mahasiswa S2 yang ke-41 periode Mei. Acara yang dilaksanakan pada pagi hari Kamis (21/5) ini digelar di Maheswara Ballroom Hotel Mahima di Jalan Hanoman Raya No. 62, Semarang Barat. Dalam momen itu, Anggita Hikmatul Inayah dinobatkan sebagai wisudawan terbaik mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) S2.

Meskipun hampir menyerah karena kesusahan sebagai mahasiswa transisi dari Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) di S1 ke Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di S2, Anggita tetap berusaha keras. Akhirnya, dengan tesis berjudul “Simbol-Simbol Budaya dalam Tradisi Pacu Jalur pada Masyarakat Melayu Kuantan Singingi”, ia berhasil lulus, bahkan menjadi wisudawan terbaik.

“Aku mengambil judul itu karena tradisi pacu jalur karena saat itu trend. Tapi sayangnya, masyarakat hanya tahu kalau pacu jalur sebagai pariwisata. Mereka tidak tahu kalau tradisi itu kompleks sekali. Mulai dari identitas sosial masyarakat, nilai spiritual, dinamika budaya, dan lain-lain. Makanya, aku ingin mengungkapkannya ke seluruh orang,” ungkap Anggita tentang alasan pengambilan judul tesisnya.

Baca juga:Wisudawan Terbaik KPI FDK Periode-100 yang Selesaikan Skripsi dengan Tenang Lewat Jalur Langit

Dalam penelitiannya itu, Anggita mengkategorikan simbol berdasarkan prosesnya. Mulai dari simbol pembuatan jalur, peralatan jalur, bahan jalur, ritual, dan simbol pada agamanya. Dalam lima kategori simbol tersebut, ia kemudian membagi lagi simbolnya menjadi verbal dan non-verbal. Seperti dilarang berkata kasar selama proses pembuatan jalur atau kapal yang digunakan dalam tradisi dalam simbol verbalnya. Sementara simbol non-verbalnya seperti harus ada limau, ayam, nasi kuning, dan sebagainya. Gotong royong, kekompakkan, dan tukang jalur yang harus keturunan adat juga menjadi salah satu simbol non-verbal.

Dalam penelitian ini, Anggita mewawancarai beberapa tokoh penting. Mulai dari pawang jalur, para pemain, tokoh adat, sampai pada ninik mamak, sosok yang posisinya berada di atas pawang jalur, sebagai posisi tertua.

“Sebenarnya kalau dilihat, pacu jalur ini seperti perlombaan biasa. Banyak masyarakat yang menganggapnya sebagai pariwisata saja. Padahal, dalam setiap Gerakan di pacu jalur ada maknanya. Mulai dari setiap ketukannya, itu ada makna-makna berbeda. Gerakan yang dilakukan anak tari juga ada maknanya. Ketika anak tari nyebur ke sungai, peluit ditiup kencang, juga ada maknanya,” terangnya.

Dalam penelitiannya ini, Anggita merasa cukup kerepotan. Mulai dari harus pergi ke Riau untuk melakukan penelitian secara langsung dengan dana pribadi. Tidak hanya itu, rangkaian pacu jalur yang panjang, hingga wawancara sampai ke detail-detailnya juga melelahkannya.
“Cukup menguras energi,” ungkapnya.
Meskipun begitu, ia senang dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Sehingga baginya, semua kelelahan itu terbayarkan.

Anggita berharap penelitiannya tidak berhenti sebagai karya akademik, bahwa penelitiannya dapat membuat tradisi pacu jalur tetap eksis sekaligus membuka mata masyarakat bahwa tradisi pacu jalur bukan hanya perlombaan dan pariwisata semata. Ada banyak simbol, budaya yang dijunjung tinggi masyarakat Melayu, nilai spiritual, dan banyak lainnya. Dan layaknya sebagai karya akademik, penelitian ini dapat membantu penelitian-penelitian setelahnya, menjadi referensi terutama untuk kajian komunikasi dan budaya.

Reporter : Muhammad Hasan, Anwar Thohir.
Editor : Alya Mahda

LPM Missi:

This website uses cookies.