The Power of Storytelling and Copywriting, Yemima Amanda: Cerita Kita untuk Siapa?

The Power of Storytelling and Copywriting, Yemima Amanda: Cerita Kita untuk Siapa? (Doc. Hanifa Shabrina)

SEMARANG.LPMMISSI.COM– “Why Stroytelling?” menjadi pertanyaan pembuka yang disampaikan Yemima Amanda kepada peserta seminar American Corner (Amcor) bertajuk, Crafting High-Converting Content: Storytelling and Copywriting Strategy. Dalam paparannya, Yemima menekankan pentingnya storytelling dan copywriting dalam dunia digital, khususnya pada media sosial.

Yemima merupakan seorang Agency Project Manager sekaligus sebagai fasilitator di komunitas “Belajarlagi”. Ia juga menjadi Co-Founder Jejak Dolan, yang berfokus pada konten wisata, travelling, dan makanan. Melalui komunitas “Belajarlagi” dan platform Jejak Dolan, Mima (sapaan akrabnya) memulai perjalanan untuk berbagi cerita, pengalaman, dan ilmunya di dunia digital.

Dalam penyampaian materinya, Mima menekankan kekuatan storytelling dalam kehidupan.

“Storytelling dapat membangun emosional kita dengan audiens atau orang lain, bersifat memorable (mudah diingat), dan membangun kepercayaan (branding),” ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa dalam bercerita penting untuk memahami target audiens, yakni kepada siapa kita ingin bercerita. Target audiens yang meliputi demografis, geografis, dan psikografis, seperti jenis kelamin, usia, latar belakang pendidikan, kepribadian, gaya hidup, dan sebagainya. Pemahaman ini membantu memperjelas pesan yang ingin kita sampaikan pada khalayak.

“Target audiens membantu kita untuk menguatkan brand positioning, mengarahkan gaya komunikasi yang relevan, membantu menjawab permasalan dengan baik, serta membangun loyalitas pada audiens,” tambahnya.

Pada sesi selanjutnya, Mima menyampaikan stuktur dan formula dalam copywriting. Secara stuktur, copywriting terdiri dari Headline (judul utama), Body (isi), dan Call to Action (ajakan).

Penggunaan headline maksimal tujuh kata sebagai pembuka dengan bahasa yang menarik, dapat membuat audiens berhenti scroll, menumbuhkan rasa penasaran dan mendorong mereka untuk mencari tau konten lebih lanjut.

“Pilihan kata pembuka yang kuat serta bahasa yang relate dapat membuat pembaca merasa sama dengan keadaan dirinya. Human Interestnya main nih di sini,” tuturnya.

Sementara itu, bagian isi (body) dan ajakan (call to action) dapat digunakan untuk mendukung judul, memberikan alasan serta meyakinkan audiens terhadap konten kita.

“Call to Action sangat bisa kita manfaatkan untuk menentukan langkah dan merespons khalayak,” jelasnya.

Mima juga memaparkan formula yang diterapkan dalam copywriting. Seperti menggunakan formula AIDA (Attention–Interest–Desire–Action), PAS (Problem–Agitate–Solution), dan HSO (Hook–Story–Offer).

“Formula ini membuat konten lebih terkonsep dan menarik,” tuturnya.

Salah satu mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Atina Alda Sadena menyampaikan kesannya mengikuti seminar ini.

“Acaranya keren dan seru. Pemateri yang sangat interaktif dengan audiens, bahkan di setiap materi ada interaksi dengan audiens, itu yang makin menghidupkan suasana. Selain itu, pertama kali aku ikut seminar di Amcor, ngga nyangka banget ada kuis di akhir sesi, jadi makin seru deh, sekaligus kita mengulas lagi materi yang disampaikan pemateri tadi,” katanya.

Mima menutup materinya dengan memberikan pesan bagi para peserta Seminar.

“Cerita untuk semua orang sama dengan tidak ada cerita untuk siapa-siapa. Maka dari itu, tentukan kepada siapa kita ingin bercerita, agar cerita ini dapat tersampaikan dan terus terputar dalam ingatan pembaca, penikmat, dan penonton konten kita,” tutupnya.

 

Penulis: Hanifah Shabrina
Editor: Nur Iffatul Ainiyah

LPM Missi:

This website uses cookies.