Nick Mars - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Minima incidunt voluptates nemo, dolor optio quia architecto quis delectus perspiciatis. Nobis atque id hic neque possimus voluptatum voluptatibus tenetur, perspiciatis consequuntur.

Tari Warak Dugder, Gambar Keceriaan Sambut Ramadan

SEMARANG, LPMMISSI.COM – Menjelang Bulan Ramadan, Kota Semarang memiliki tradisi yang digelar setiap tahun. Tradisi tersebut dinamakan Dugderan.

Pada tahun ini, Dugderan dibuka dengan acara Karnaval yang digelar di Lapangan Pancasila, Kota Semarang, Senin (20/3).

Karnaval Dugderan yang diselenggarakan sore hari tersebut diikuti ribuan pelajar tingkat SD dan SMP. Mereka mengenakan berbagai kostum dengan pernak-pernik yang memberikan kesan meriah.

Dugderan di Kota Semarang tak dapat lepas dari Warak Ngendog. Warak Ngendog merupakan sebuah boneka berbentuk hewan berkaki empat mirip kambing dengan kepala naga berwarna warni dan terlihat seolah sedang bertelur atau ngendog. Boneka ini menjadi ikon Dugderan Kota Semarang. Warak Ngendog juga melambangkan perpaduan tiga etnis, yakni Arab, Jawa, dan Tionghoa.

“Keberadaan Warak Ngendog memperlihatkan keharmonisan antar etnis sehingga membuka jalinan kontak budaya yang lebih intensif dan memungkinkan terjadinya akulturasi,” ucap Sekretaris Daerah Kota Semarang Iswar Aminuddin, selaku pembina upacara karnaval

Selain itu, karnaval Dugderan juga dimeriahkan oleh Tari Warak Dugder. Tarian ini ditampilkan oleh 21 penari perempuan dan 10 penari laki-laki yang menari dengan mengangkat boneka Warak Ngendog.

Penari perempuan mengenakan baju berwarna merah berkain jarik dengan hiasan konde di kepala. Sementara, penari laki-laki mengenakan baju berwarna merah dengan celana yang dibalut jarik semarangan. Selain itu, mereka juga memakai ikat kepala atau udeng dan gelang tangan.

Koreografer Tarian Warak Dugder, Minto, mengatakan, tari yang menjadi salah satu simbol tradisi Dugderan ini selalu mengalami perubahan gerakan di setiap tahunnya. Namun, busana dan peralatan yang digunakan tetap sama.

“Tiap tahun selalu eksplorasi, idenya dari mana saja,” ujarnya.

Menurut penuturannya, tarian yang ditampilkan sejak 2017 ini melambangkan keceriaan para remaja dalam menyambut Bulan Ramadan. Oleh sebab itu, gerakan dalam tarian ini bemacam-macam dan dibuat agar terkesan ceria. Mereka menari dengan gerakan yang berbeda secara berkelompok.

Minto mengatakan perbedaan gerakan merupakan bentuk kolaborasi. Perbedaan itu diartikan sebagai keragaman cara masing-masing individu untuk meraih kesenangan bersama.

“Bersatu tidak harus menyatu. Silahkan kamu dengan caramu, saya dengan cara saya. Pada akhirnya tujuannya sama, keceriaan,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu penari Warak Dugder, Wike, mengaku perlu waktu lebih dari satu bulan untuk berlatih dan mempersiapkan penampilan tari ini karena adanya tambahan gerakan baru.

“Latihanya sebulan lebih karena proses menggarap gerakan baru juga,” ujarnya.

Reporter: Indah Wulan sari

Editor: Aulia A Putri

LPM Missi:

This website uses cookies.