SEMARANG, LPMMISSI.COM— Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) hari ketiga Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang diwarnai pemindahan lokasi Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari Auditorium dan Gedung Serba Guna (GSG) ke lapangan utama, Kamis (20/8). Pemindahan tersebut dilakukan setelah panitia menilai lokasi sebelumnya kurang memadai untuk menunjang pelaksanaan Expo UKM.
Ketua Pelaksana PBAK, Dzikri Hanif Salim, mengatakan pemindahan lokasi dilakukan setelah panitia mengevaluasi pelaksanaan PBAK pada hari pertama.
“Melihat dari venue yang telah ditentukan di awal, yaitu Audit dan GSG, seperti belum cukup memadai. Bila tetap dilanjutkan, tidak dapat memaksimalkan Expo UKM tersebut,” ujarnya.
Panitia kemudian melakukan pemetaan bersama ketua-ketua UKM pada Rabu (19/8). Pemetaan tersebut melibatkan 19 UKM dan menghasilkan kesepakatan untuk memindahkan lokasi Expo ke lapangan utama.
Meski dinilai lebih mampu menampung kegiatan UKM, pemindahan tersebut menimbulkan persoalan baru terkait kondisi peserta. Dzikri mengakui pelaksanaan Expo di lapangan berlangsung kurang kondusif.
“Adanya ketidakkondusifan saat Expo di lapangan itu juga menjadi bagian dari risiko event-event besar yang ada di UIN Walisongo Semarang,” ungkapnya.
Baca juga: Keluhkan Fasilitas Ibadah, Mahasiswa Baru Antre Hingga Shalat di Labda Kampus II
Ketua UKM WSC, Adhwa Setio Rabbani, menyetujui pemindahan lokasi Expo ke lapangan utama. Menurutnya, Auditorium dan GSG tidak memungkinkan untuk menampung kebutuhan penampilan UKM, terutama karena penampilan WSC melibatkan sekitar 20 orang.
“Setelah saya lihat di hari ke-2 PBAK, itu tidak memungkinkan untuk melakukan Expo di GSG dan Audit dikarenakan kapasitasnya. Karena penampilan WSC itu membawa kurang lebih 20 orang, jadi dari saya sendiri setuju dengan pemindahan lokasi Expo,” katanya.
Namun, Adhwa menilai pengondisian peserta mulai kurang tertib ketika memasuki penampilan terakhir. Sejumlah peserta meninggalkan lapangan utama dan tidak lagi mengikuti penampilan UKM.
“Untuk pengondisian peserta di awal masih tertib, tapi begitu memasuki penampilan-penampilan terakhir, para peserta mulai tidak teratur. Banyak yang keluar lapangan utama,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KSMW, M. Wafi ‘Ahdillah, menilai lokasi yang disediakan sudah cukup memadai. Ia juga menilai pembagian penampilan UKM berjalan lancar. Namun, ia memaklumi mahasiswa baru yang memilih berteduh dan melakukan kunjungan ke stand UKM secara mandiri karena kondisi lapangan yang panas.
“Lumayan chaos, tapi aku lebih ke kasihan mabanya, jadi memaklumi,” ungkap Wafi.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah mahasiswa baru. Neszya Oktavia, mahasiswa baru Fakultas Kedokteran asal Klaten, menilai kondisi lapangan ramai dan kurang kondusif. Ia juga mengeluhkan kondisi lapangan yang panas serta keberadaan sejumlah payung yang membuat sebagian peserta kesulitan melihat penampilan UKM.
Mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Chusnul Khotimah, juga menilai pelaksanaan Expo kurang nyaman.
“Kurang kondusif, panas dan agak bosan. Mereka pergi ke stan-stan sendiri,” ujarnya.
Namun, penilaian berbeda disampaikan Muhammad Fajar Prawirohutomo, mahasiswa baru Jurusan Manajemen. Ia menilai pelaksanaan Expo masih cukup nyaman karena mahasiswa dapat melakukan kunjungan ke stan UKM sambil menyaksikan penampilan.
“Nyaman-nyaman aja, boleh visit sambil melihat penampilan,” katanya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, sejumlah mahasiswa baru terlihat mulai berpencar dan tidak sepenuhnya memperhatikan penampilan UKM yang berlangsung. Sebagian peserta memilih berteduh atau mengunjungi stan UKM secara mandiri.
Penulis: Hani Pradita
Editor: Amiq Fuadi