Isbalna, pemuda Tegal yang memulai bangku kuliah pada tahun 2016 di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, kini dikenal sebagai pendiri komunitas fotografi menggunakan ponsel bernama Phonegraphy Indonesia.
Perjalanan panjang yang ditempuh dan kecintaannya mengenai dunia digital dengan terbiasa memotret mengenakan ponsel, membuat ia tertarik untuk menciptakan komunitas sendiri.
“Phonegraphy dibuat untuk orang orang yang suka fotografi pake HP,” ujarnya.
Komunitas ini awalnya dibangun menjadi wadah pecinta fotografi menggunakan ponsel, namun berkembang menjadi ruang untuk belajar, eksplorasi konten, hingga personal branding.
“Karena suka foto dan tidak punya kamera. Saya hanya punya Redmi 4A, jadi ya pakai itu untuk belajar foto,” ucap Isbal.
Nama Phonegraphy lahir dari kisah pribadinya. Dari keterbatasan itulah yang membuat mimpi besar muncul.
Phonegraphy sendiri resmi dibuat pada 18 September 2018. Saat itu, Isbalna terinspirasi dari salah satu senior di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Missi, Dafi Yusuf yang memiliki akun jualan perhiasan dengan 10 ribu followers.
“Itu yang buat aku terpacu untuk bisa buat komunitas sendiri,” ujarnya.
Sebelum Phonegraphy berdiri, Isbalna sempat membuat akun sastra bernama Cerita Bersambung (CerBung). Lalu, ia menemukan ide untuk membuat komunitas fotografi, yang awalnya dunia cerpen menjadi dunia visual.
Kini Phonegraphy telah memiliki anggota di berbagai platform seperti Telegram dengan 179 anggota, dan 56 anggota di WhatsApp Utama.
“Kenapa Cuma 56? Supaya nggak hectic dan tetep kondusif, ” katanya.
Total pendaftar member komunitas ada sekitar 448 orang.
Perjalanan membangun komunitas tentu tidak mudah. Isbalna mengaku bahwa dia sempat minder.
“Followers dan member banyak yang lebih pro, itu yang membuat awal-awal sedikit minder, ” tuturnya.
Dari situlah menjadi titik untuk lebih berkembang lagi. Dengan banyak belajar, ia kini jauh lebih percaya diri dan lebih matang dalam memahami fotografi dan dunia konten.
Tantangan lain adalah tampil di depan kamera.
“Kurang percaya diri dan kaku,” akunya.
Meski begitu, ia terus memaksa dirinya berkembang, sehingga kini ia kerap diundang untuk mengisi materi, hingga pernah mengisi acara di Kementerian Kehutanan Bali, serta bekerja sama dengan sejumlah brand smartphone.
Isbalna menjelaskan bahwa dunia digital adalah ruang yang sangat dinamis. Ia memahami perubahan algoritma Instagram, yang dulunya posting sehari 3 kali kini memerlukan unggahan 1 kali sehari.
Dalam membuat konten, ia memilih gaya yang fleksibel.
“Saya lebih sering bikin konten dadakan, jadi nggak terpaku sama planning,” ucapnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa ada masa ketika ia ingin berhenti karena kelelahan mengikuti tren. Dia harus memutar otak mencari cara agar kontennya tetap berkembang.
Di samping itu, ada pula banyak momen membanggakan. Salah satu yang paling berkesan adalah review smartphone pertamanya, yang menjadi iklan resmi dari sebuah brand.
Pada tahun 2023, ia mendapat kesempatan bekerja sama dengan Oppo Global dan dihubungi langsung dari Tiongkok, sebuah pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bagi para pemula dunia fotografi, Isbalna memberikan pesan untuk memulai terlebih dahulu.
“Di dunia gadget itu luas. Banyak yang fokus sama kamera iPhone, padahal brand lain punya keunggulan juga. Buat teman-teman, belajar foto itu nggak usah nunggu punya kamera. Mulai dari teori dulu, angle, teknik foto, “ tuturnya.
Penulis: M. Alfin Nizar
Editor: Hanifah Shabrina