Generasi Muda Terancam Krisis Iklim, Jarilima Ingatkan Pemerintah Lebih Ambisius Menangani

Salah satu peserta aksi Climate Strike serukan dampak krisis iklim (foto: lpmmissi.com/ Ayu)

SEMARANG, LPMMISSI.COM—Ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah serta kampus di Semarang mengikuti aksi Semarang Climate Strike, Jumat (14/11).

Aksi yang digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah bersama Jaringan Peduli Lingkungan dan Alam (Jarilima) itu menyerukan agar pemerintah segera melakukan transisi menuju energi bersih dan berkeadilan untuk menghadapi dampak krisis iklim.

Aksi dimulai dengan long march dari Taman Indonesia Kaya menuju kawasan Patung Diponegoro, Pleburan, dan diikuti sekitar 200 peserta. Mereka berasal dari Eduhouse (jenjang TK hingga SD), Klub Merby, SMA Kebondalem, mahasiswa Bina Nusantara (BINUS), serta Jaringan Gusdurian UIN Walisongo.

Tidak hanya pelajar dan mahasiswa, aktivis lingkungan hingga tokoh lintas agama juga terlibat dalam aksi tersebut.

Para peserta membawa poster yang berisi seruan dan kekhawatiran terhadap memburuknya krisis iklim. Selama aksi, mereka menggelar orasi, ekspresi seni, pembacaan puisi, hingga pembagian tanaman gratis.

Koordinator lapangan aksi dari Jarilima, Ellen Nugroho, menyatakan bahwa generasi muda akan menjadi pihak yang paling terdampak krisis iklim.

“Yang mewarisi bumi adalah anak muda. Climate Strike digagas oleh para pelajar untuk membangunkan kesadaran generasi tua yang memegang kekuasaan. Dampak kebijakan hari ini akan dihadapi anak-anak muda. Jika pemerintah tidak segera beralih dari bahan bakar fosil ke energi bersih, mereka akan menjadi yang pertama merasakan panas ekstrem, krisis air, hingga kerusuhan sosial akibat krisis pangan,” ujarnya.

Ellen menambahkan bahwa dampak krisis iklim sudah terlihat jelas di Jawa Tengah, termasuk Semarang. Ia menekankan agar pemerintah segera bertindak lebih serius.

“Kondisi iklim sekarang sangat genting. Dua tahun terakhir suhu bumi sudah melampaui ambang batas aman. Pemerintah perlu segera mengganti bahan bakar fosil dengan energi bersih, mengeksplorasi energi angin dan air, dan memastikan transisi energi segera dilakukan,” katanya.

Tokoh agama Buddha dari Vihara Buddhajayanti Kassap, Bhikkhu Dhittisampanno Mahathera, menilai aksi Climate Strike selaras dengan ajaran Buddha.

“Landasan agama Buddha adalah doa agar semua makhluk berbahagia. Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus membebaskan diri dari kerusakan lingkungan, karena kerusakan itu tidak akan membawa kebahagiaan,” ujarnya.

Peserta aksi dari Jaringan Gusdurian UIN Walisongo Semarang, Heromando, juga menyampaikan keresahannya atas situasi iklim.

“2045 digadang-gadang menjadi Indonesia Emas, tetapi generasi sekarang justru cemas karena bumi semakin memanas,” katanya.

Usai aksi, Jarilima menyatakan akan melanjutkan edukasi tentang gaya hidup rendah karbon serta advokasi kebijakan, termasuk kampanye bahaya mikroplastik. Jarilima berharap pemerintah mengambil langkah serius untuk menahan laju krisis iklim yang kian berdampak pada kehidupan masyarakat.

Reporter: Ayu Trianasari
Editor: Fatkhiyya Azzahro

LPM Missi:

This website uses cookies.