SEMARANG, LPMMISSI.COM – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang menggelar Dialog Interaktif bertajuk “Peran Generasi Muda dalam Menjawab Tantangan Gender dan Mewujudkan Kesetaraan di Era Digital”, pada Senin (27/4), dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Laboratorium Dakwah ini menghadirkan lima akademisi dan aktivis gender, membahas peran strategis terkait isu gender dan emansipasi.
Acara dihadiri oleh mahasiswa dan dibuka secara resmi oleh Dekan FDK UIN Walisongo, Nashihun Amin. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan gender tidak pernah usai, terutama di tengah dinamika era digital yang membawa tantangan sekaligus peluang baru.
Dalam sesi pemaparan pertama, yang disampaikan oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Siti Prihatiningtyas, membahas peran strategis perempuan dalam kepemimpinan.
Baca juga: 7 Gugatan PMII Kota Semarang Tolak UU KUHAP
Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa perempuan perlu meningkatkan kualitas pendidikan, intelektualitas, dan keterampilan. Ia melanjutkan, kita perlu menganalisis atau menguraikan bagaimana kekuatan, kelemahan, tantangan, dan peluang menjadi seorang perempuan.
Perempuan juga harus memiliki keberanian dalam menyuarakan kesetaraan, memperluas jaringan dan relasi, serta aktif dalam organisasi dan masyarakat.
“Mentalitas sebagai seorang perempuan juga harus dilatih, melalui pengembangan diri dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, diskusi, dan kegiatan lainnya, dapat menjadi bekal penting dalam mempersiapkan diri di masyarakat,” katanya.
Menurutnya, perempuan itu memiliki nilai lebih dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, memiliki daya tarik untuk belajar, lebih luwes, perhatian dan peka terhadap sesuatu.
“Itu bagian dari kekuatan yang bisa diuraikan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan jika ancaman dan kelemahan tidak menutup diri dari banyaknya perempuan di dunia ini. Budaya patriarki, diskriminasi, dan stereotip juga masih menghantui para perempuan di luar sana, terlebih di era digital ini.
Baca juga: The Power of Storytelling and Copywriting, Yemima Amanda: Cerita Kita untuk Siapa?
Perempuan harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat suara dan kontribusinya dalam ruang publik, sebagai bagian dari representasi kesetaraan gender di media sosial.
Selain itu, Ketua Jurusan S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Ema Hidayati, mengangkat topik keterlibatan laki-laki dalam gerakan emansipasi. Ia menekankan bahwa kesetaraan gender adalah tanggung jawab bersama.
“Emansipasi bukan perjuangan perempuan semata. Laki-laki harus menjadi mitra strategis bagi perempuan. Ketika laki-laki sadar akan privilege-nya dan bersedia menjadi agen perubahan, maka transformasi sosial menuju kesetaraan akan berjalan lebih cepat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemaparan materi ketiga yang disampaikan oleh Silvia Riskha Febriar, selaku Ketua Jurusan S1 KPI, yang membahas respons terhadap kekerasan berbasis gender online (KBGO). Ia menyoroti urgensi literasi digital dan perlindungan hukum.
“Ruang digital seharusnya menjadi ruang aman bagi semua. Namun, fakta menunjukkan perempuan masih menjadi target utama kekerasan online. Kita perlu memperkuat regulasi, meningkatkan kesadaran hukum, dan membangun mekanisme pelaporan yang responsif agar korban tidak semakin termarjinalkan,” paparnya.
Ia melanjutkan, terkadang yang seringkali memberikan komentar pertama kali, terkait kasus yang mencuat ke publik adalah perempuan itu sendiri, dan hal ini dapat membuat fokus publik bergeser. Bukan pada pelaku, melainkan fokus pada korban.
“Hal inilah yang menjadi bibit diskriminasi, dan kekerasan berbasis gender di media online,” terangnya.
Ketua Jurusan S1 Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Ulin Nihayah, menyampaikan tentang representasi perjuangan Kartini di masa kini. Ia mengajak peserta merefleksikan relevansi pemikiran Kartini dalam konteks kekinian.
“Kartini bukan sekadar simbol masa lalu. Semangatnya untuk menuntut ilmu, berani menyuarakan ketidakadilan, dan memperjuangkan martabat manusia sangat relevan hari ini. Generasi muda harus meneruskan estafet perjuangan itu dengan cara-cara yang adaptif terhadap tantangan zaman,” tuturnya.
Terakhir, Usfiyatul Marfu’ah, selaku Sekretaris Jurusan S1 Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), menutup rangkaian pemaparan dengan topik penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan gender. Ia menekankan pentingnya memahami perbedaan diskriminasi dan kekerasan yang mengarah pada seksual, serta mengedukasi mahasiswa terkait sistem pelaporan kasus kekerasan seksual.
“Kita harus bisa membedakan mana KS yang bisa dituntut dalam ranah hukum dan mana yang tidak. Jika base-nya suka sama suka, itu masuk dalam ranah pelanggaran Kode Etik Zina. Tetapi, jika karena terpaksa, itu yang dapat dilaporkan dan ditindak lebih lanjut dalam proses hukum,” terangnya.
Ia menambahkan, meskipun begitu, perempuan juga masih memiliki batasan terkait arah gerak kepemimpinan yang dipercayakan padanya. Harusnya kita bisa lebih sadar akan batasan itu, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang setara.
“Diskriminasi gender tidak akan hilang hanya dengan kampanye simbolik. Diperlukan komitmen kebijakan yang afirmatif, pendidikan yang sensitif gender sejak dini, serta perubahan pola pikir di tingkat masyarakat. Generasi muda harus menjadi motor penggerak perubahan ini di ruang digital maupun nyata,” tegasnya.
Sesi dialog berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan pertanyaan kritis seputar implementasi kesetaraan gender di lingkungan kampus, masyarakat, dan ruang digital.
Ketua Panitia Pelaksana Dialog Interaktif DEMA FDK UIN Walisongo, Nahampun Atikah Nur’aini menyampaikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme peserta.
“Kami berharap dialog ini tidak berhenti di ruang diskusi. Harapannya, setiap peserta dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai kesetaraan gender di lingkup masing-masing, baik melalui konten digital, aksi sosial, maupun kebijakan kampus,” ujarnya.
Selain itu, salah satu peserta Dialog Interaktif, Nur Iffatul Ainiyah menyampaikan kesannya mengikuti acara ini.
“Sangat menarik pastinya, dan insigthful. Tema yang diangkat pas sekali dengan momentum Hari Kartini, ditambah dengan pemateri yang sangat kompeten dalam bidangnya, bahkan mereka juga masuk dalam jajaran birokrasi kampus. Jadi, banyak ilmu dan pengalaman yang didapat,” katanya.
Tak lupa, ia juga berharap, diskusi mengenai kesataraan gender tidak hanya berhenti dalam forum saja, melainkan terdapat output yang bisa diperjuangkan atau suarakan bersama mengenai kesetaraan gender di ruang publik.
Reporter: Hanifah Shabrina
Editor: Ayu Trianasari