Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Puasa Tak Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

foto;lpmmissi/Sukma

Makna puasa secara bahasa berarti menahan, sedangkan secara syariat menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Berada di bulan penuh berkah, senantiasa mengingatkan kita untuk selalu bertakwa dan beribadah kepada Allah SWT. Bulan Ramadan memiliki banyak keistimewaan dibanding dengan bulan lainnya. Tak heran jika pada bulan ini, banyak manusia berlomba-lomba melakukan kebajikan.

Mungkin ketika kita mendengar kata Ramadan, yang terlintas pertama kali dalam benak yakni menahan diri dari makan dan minum, melaksanakan salat tarawih, bahkan ada yang kepikiran buat beli baju lebaran, bukan?

Tapi, apa benar puasa hanya menahan diri dari makan dan minum?

Eits, ternyata pengertian puasa tidak hanya sekadar menahan diri dari tidak makan dan minum saja loh. Puasa juga menahan diri dari hawa nafsu, baik menjaga lisan dari perkataan kotor, menjaga pandangan dari hal-hal yang haram, menjaga hati dari prasangka buruk dan menahan diri dari perilaku negatif seperti bergosip dan mengumpat. Hal ini bertujuan melatih diri agar bisa mengontrol emosi.

Penjagaan lisan di bulan Ramadan sudah tertera dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ berkata, “Puasa adalah tameng, apabila salah seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila terdapat seseorang memusuhinya atau mencelanya maka hendaknya dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa.””

Dari hadis diatas disimpulkan, bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi puasa juga menahan diri agar tidak mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Menahan diri di bulan puasa bukanlah mudah, tak sedikit juga manusia dikendalikan oleh emosinya. Pengendalian emosi menjadi salah satu hikmah yang paling dirasakan manfaatnya di bulan Ramadan.

Ustadz Hilman Fauzi menjelaskan, emosi dan marah tidak membatalkan puasa. Orang yang emosi, marah, dan kesal tetap dapat melanjutkan puasanya. Namun, emosi dan marah dapat mengurangi pahala puasa di sisi Allah.

Menurut Imam Abu Hamid al Ghazali, puasa merupakan menjaga pandangan mata serta membatasinya sehingga tak terjerumus pada dosa dan maksiat yang dapat menjauhkan diri dari Allah. Menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, seperti mencela, berbohong, hinaan, fitnah dan segala yang dapat melukai perasaan orang lain.

Untuk menghindari hal tersebut banyak yang dapat dilakukan di bulan Ramadan, seperti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, menyibukkan lisan dengan berdoa, berdzikir, serta memperbanyak membaca Al-Quran.

Sangat disayangkan jika puasa hanya dijadikan sebagai momentum untuk menahan diri dari tidak makan dan minum saja. Tetapi kita tidak bisa menjaga lisan dan perbuatan selama bulan puasa. Ketika tidak bisa menjaga lisan dan perbuatan, sejatinya kita sedang mengurangi pahala dari ibadah puasa itu sendiri. Sangat disayangkan, bukan?
Untuk itu, mari jadikan puasa ini sebuah momentum untuk meningkatkan aktivitas spiritual kepada Allah SWT.

Penulis: Karina Rahma Dani

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini