Buy now

31 C
Semarang
Kamis, Mei 30, 2024
spot_img

Film “Ketika Berhenti di Sini”, Filosofis dan Penuh Pesan Moral

foto:@prillylatuconsina96

Film “Ketika Berhenti di Sini” yang diperankan oleh Prilly Latuconsina sebagai Dita dan Bryan Domani sebagai Ed, mulai tayang tanggal 27 Juli 2023 hingga 27 Agustus 2023 di bioskop seluruh Indonesia.

Film yang disutradarai oleh Umay Shabab tersebut mengisahkan seorang wanita muda yang sulit menerima “kehilangan” setelah ditinggal ayahnya semasa sma dan juga ditinggal kekasihnya. Hidup dan mati mengiringi kehidupan manusia. Namun dalam menyabutnya, kematian tidak punya aba-aba terlebih dahulu. Hingga akhirnya meninggalkan luka mendalam bagi orang yang ditinggalkan.

Film “Ketika Berhenti di Sini” mengangkat kisah hidup dari seorang wanita muda bernama Dita yang merupakan seorang desainer grafis yang memiliki idealisme tinggi, namun juga mempunyai rasa takut yang besar akan kegagalan.

Film ini dibuka dengan narasi menarik tentang filosofi mandala, yang juga jadi salah satu alasan Dita menekuni bidang design. Tak hanya sebuah motif lingkaran, mandala memiliki filosofi yang lebih kompleks dan dalam. Mandala kerap dianggap sebagai alam semesta dengan titik pusat yang mewakili perpaduan harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan. Empat titik mandala yang dijelaskan di film ini menggambarkan empat fase kehidupan Dita.

Mulai dari Utara yang penuh dengan keserakahan. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Dita yang ingin setiap waktu bersama dengan Ed, karena Ed tidak selalu bisa memenuhi keinginan Dita.

Yang kedua yaitu Barat, yang berarti penuh cinta. Waktu terus berjalan dan Dita mulai ada rasa dengan Ed, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk saling mencintai satu sama lain. Selama berpacaran mereka terus saling bermain teka-teki, karena Ed menyukai teka-teki sedangkan Dita harus bisa menyelesaikan teka-teki tersebut. Hingga akhirnya, Ed telah tiada dan Dita masih tetap mencintainya.

Kemudian ada selatan, yang berarti penuh amarah dan luka. Ketika mendengar bahwa Ed mengalami kecelakaan, Dita pun merasa marah, kesal dan terluka karena kekasih yang ia cintai sepenuh hati itu telah pergi meninggalkannya selama-lamanya. Dita menyesal karena ia telah marah kepada Ed, karena sebelumnya ia tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan olehnya. Satu waktu Dita mendapat kacamata dari kawannya, kacamata itu bernama “Look”, teknologi kacamata yang bila dipakai dapat memvisualisasi seseorang yang sudah mati. Tetapi kacamata tersebut hanyalah hasil visualisasi teknologi yang tidak nyata. Selang beberapa waktu kacamata itu tiba-tiba rusak dan kemudian Dita marah dan mengembalikan kacamata tersebut untuk dibenahi. Dita disadarkan oleh Ivan yaitu sahabat masa kecilnya, bahwa kacamata itu hanyalah sebuah khayalan, hingga akhirnya Dita sadar dirinya sudah terlalu jauh dalam khayalan.

Lalu Timur yang jadi titik terakhir penuh kedamaian. Akhirnya Dita pun mulai tersadar kalau kacamata itu hanyalah sebuah khayalan. Ia pun bisa menerima sebuah kenyataan bahwa Ed sudah meninggal dan sudah tiada lagi di dunia ini. Dita akhirnya dapat ikhlas menerima segala apa-apa yang telah menimpanya.

Penggunaan filosofi mandala ini menjadi poin menarik dalam film ini, yang mana filosofi ini memiliki pesan-pesan moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan di dunia.

Dalam Film ini juga didukung oleh soundtrack lagu yang berjudul “Sorai” karya Nadin Amizah. Yang mana di dalam lagu tersebut mengisahkan tentang mengikhlaskan seseorang yang telah pergi meninggalkan selamanya.

Selain itu terdapat beberapa pesan moral yang terdapat pada film ini. Diantaranya sikap dalam menghadapi kehilangan tanpa berputus semangat, yang berarti meskipun kita telah kehilangan seseorang yang baik, namun hidup harus tetap dijalani dengan semangat dan penuh perjuangan. Menangis boleh marah boleh kesal juga boleh, tetapi kita juga harus bangkit atas rasa kehilangan tersebut. Jangan sampai kita terus terpuruk atas kehilangan, karena jalan masih panjang akan selalu ada hal baru yang akan datang.

Selanjutnya pesan yang kedua, kita harus bisa mengikhlaskan meskipun dipenuhi dengan teka-teki. Mengikhlaskan menjadi langkah terbesar untuk merelakan orang yang telah pergi, sehingga dapat menghadapi teka-teki kehidupan dengan hati yang lapang.

Pesan yang selanjutnya yaitu teman yang selalu ada walaupun sedang dalam kehilangan. Yang berarti meskipun kita sedang berada dalam musibah, teman yang baik akan selalu menenangkan pikiran dan menjaga emosi pada diri kita. Karena teman yang baik akan selalu menemani dalam damai atas kehilangan.

Terakhir tentang pandai dalam menyembunyikan kesedihan, walaupun dalam keadaan sedih. Tidak semua orang bisa menyembunyikan rasa sedihnya, perasaan sedih merupakan hal manusiawi, namun menjaga agar terlihat tegar dalam kesedihan bukanlah hal mudah. Kita harus belajar untuk tegar dalam menjaga perasaan, jikalau hal tersebut berkaitan dengan kecintaan terhadap seseorang. Berbiasalah, berbahagialah.

Penulis: M. Kholis Dwi Saputro
Editor: Haqqi Idral

baca juga

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0PengikutMengikuti
3,609PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

terkini