spot_img
HomeBeritaIlyas Supena, Yakinkan Siapa Pun Terhadap Islam Nusantara

Ilyas Supena, Yakinkan Siapa Pun Terhadap Islam Nusantara

foto: doc lpmmissi.com

SEMARANG, LPMMISSI.COM- Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo, Ilyas Supena, tampak duduk di ruangan Dekan FDK UIN Walisongo, Senin (6/6). Di mejanya terdapat tumpukan buku, dokumen, dan sebagainya.

 

Ia baru saja memperoleh gelar profesor atau guru besar Ilmu Filsafat Islam, Sabtu (4/6). Ketertarikannya pada Ilmu Filsafat dimulai ketika mengenyam pendidikan sarjana di Fakultas Filsafat UGM.

 

“Semua mengalir begitu saja,” ucapnya.

 

Ketertarikannya terhadap keilmuan filsafat semakin terfokus ketika ia menempuh magister di IAIN Walisongo. Ia menemukan pandangan bagaimana kajian filsafat yang abstrak dalam perkembangan ilmu keislaman.

 

Proses pencapaiannya memperoleh gelar profesor bukanlah dalam waktu yang singkat. Ia pernah mengajukan pada sekitar tahun 2009-2010. Namun, pada waktu itu ada syarat yang belum bisa Ilyas penuhi, yakni telah menulis jurnal internasional.

 

Hingga akhir tahun 2020, ia kembali mengajukan diri sebagai guru besar. Karya ilmiahnya yang membahas “Epistemologis Islam Nusantara” berhasil membuatnya meraih gelar profesor.

 

Dekan FDK UIN Walisongo asal Karawang tersebut mengatakan, Islam Nusantara bukanlah hal yang baru. Menurutnya, Islam Nusantara memiliki integrasi ilmu islam yang memberikan apresiasi budaya lokal tanpa menghilangkan unsur hakiki Islam dan mengeliminasi dimensi budaya.

 

“Sehingga menjadi sebuah entitas yang menyatu tetapi tidak kehilangan identitasnya masing-masing,” ucap Ilyas.

 

Dari hal itu, tambah Ilyas, maka diperlukan epistemologi yang kuat. Lebih jelas Ilyas menuturkan, Islam Nusantara berbeda dengan akulturasi. Menurutnya, Islam Nusantara tidak meninggalkan identitas lokal dan identitas keislaman.

 

Sementara itu, Ilyas menyebut, meskipun Islam di Indonesia berdialog dengan budaya lokal, hal itu tidak menghilangkan ciri dan bahasan Islam dari berbagai aspek, seperti akidah, syariat, akhlak, dan sebagainya.

 

“Justru ajaran inilah yang memberikan warna baru yang menghiasi budaya yang sudah ada dan tidak menghilangkan ciri keislaman,” katanya.

 

Ia membahas Islam Nusantara karena bertujuan meyakinkan siapa pun yang kontra terhadap istilah Islam Nusantara.

 

“Islam Nusantara ialah kemasan yang sudah lama dan dapat menarik masyarakat Indonesia untuk memeluk agama Islam karena merasa relevan dengan budaya,” pungkanya.

 

Reporter: Muhammad Irfan Habibi
Editor: Oktaviani Elly M

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER