spot_img
HomeBeritaDi Residensi Akhir Pekan Kita "Nyastra"

Di Residensi Akhir Pekan Kita “Nyastra”

sastra
foto: doc. lpmmissi.com

SEMARANG, LPMMISSI.COM – Selayaknya makhluk, sastra sudah seyogianya mengambil peran dalam kehidupan, untuk terus memicu dan menghidupkan nalar manusia.

Siang itu, gerimis menyapu pelataran Rumah Kebun Sastra Guyub yang berada di Jl. Franz Kafka Dusun Krajan Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Lokasi ini menjadi tuan rumah atas Residensi Akhir Pekan yang kedua pada Sabtu-Minggu (26-27/11).

Rerimbun pohon, hawa dingin, dan deru aliran sungai menjadi atmosfer pengiring suasana diskusi yang langsung dibersamai oleh Floribertus Rahardi (72). Penyair kelahiran Ambarawa ini telah menerbitkan banyak karya, seperti Lembata, Menggugat Tuhan, Tuyul, Negeri Badak, Ritual Gunung Kemukus, Para Calon Presiden, Migrasi Para Kampret, dan beberapa judul lain.

Beberapa di antara judul yang telah di sebutkan tadi, buku dengan judul Negeri Badak mendapat penghargaan SEA Award di Mandarin Oriental Bangkok pada 2009, Lembata yang meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2009, serta Tuyul yang meraih penghargaan Hadiah Sastra Pusat Bahasa di Wayback Machine pada 2016.

Rahardi mengatakan bahwa, tak hanya ketika menjadi seorang penyair belaka, menjadi penulis, wartawan, tukang masak atau apapun profesinya seyogianya selalu menyajikan karya dengan versi yang terbaik.

Menurutnya, andaipun seseorang bisa mencapai pada posisi yang strategis sebagai tokoh, penghormatan atau apresiasi publik sebanding dengan kualitas dari apa yang disajikan.

“Warung tidak laku itu bukan karena di kelilingi oleh warung-warung lain, akan tetapi karena apa yang disajikan memiliki rasa yang tidak lagi enak atau karena dibanderol dengan harga yang tidak pas,” tuturnya.

Rahardi menekankan betapa pentingnya kebermulaan dan keberlanjutan dari proses berkarya itu sendiri, dengan catatan tidak dulu terbebani bagaimana cara menjualnya.

“Jalur mana yang akan ditempuh itu pilihan, akan tetapi ketika kita sudah mantap pada satu jalan, misalnya menjadi penulis, catatannya harus serius, agar itu bisa menjadi sumber penghidupan,” katanya.

Sementara Rahardi berpesan untuk tidak melakukan sesuatu apabila ragu-ragu. Begitupun mengenai pilihan, kalau tidak bisa menikmati atau hidup dari puisi perlu mencari alternatif lain, lewat cerita pendek, esai, kolom atau wacana dan medium apapun yang lebih mudah dijual.

Lebih lanjut, ia juga menambahkan betapa latihan memiliki peran yang sangat penting. Terkadang orang-orang merasa sombong, tidak mau latihan. Padahal dengan latihan keterampilan akan terus terasah.

“Teater, bermusik, menari, semuanya butuh latihan. Ketika sudah menjadi terampil, tentu apa yang dihidangkan kepada publik sudah teramat layak karena sudah terjadi penempaan dan kepiawaian diri,” terangnya.

Mencipta Ekosistem

Ketua panitia acara residensi, Heri Chandra Santosa mengaku tidak membuat tema khusus dan batasan. Harapannya dengan kegiatan seperti ini dapat membangun ekosistem kreatif dalam masyarakat.

“Bagaimana dengan digelarnya residensi ini dapat menjadi titik simpul untuk membangun dunia kreatif lewat para peserta lintas generasi,” ucap Heri yang juga selaku penggagas Komunitas Lereng Medini.

Lebih lanjut Heri menerangkan residensi sendiri bisa dimaknai sebagai bagian dari nyantrik banyak pihak, utamanya terhadap sang maestro secara langsung.

“Memang residensi ini bagian dari kerja bersama antara komunitas-komunitas sastra dan penerbitan di kendal. Ada Komunitas Lereng Medini, Sangkar Arah pustaka, Pelataran Sastra Kendal, Jarak Dekat Production, Pondok Baca Ajar, Wakul Pustaka, Pondok Maos Guyub dan masih banyak pihak lain,” terangnya.

Tak jauh berbeda dari residensi pertama yang digelar di Teras Budaya Prof. Mudjahirin Thohir, persyaratan pada residensi kedua yaitu seleksi karya. Bedanya peserta tak hanya berasal dari wilayah Kendal saja.

“Residensi ini juga menjadi rangkaian dari Kendal Novel Awards 2022 dan mendapat respon yang baik dari penulis, pegiat literasi, dan mereka yang mau belajar bersastra. Bahkan ada peserta yang dari luar daerah juga, Temanggung, Magelang, Grobogan, Batang, Kendal dan sekitarnya,” jelasnya.

Kemah Sastra

Lebih detail penggagas dan penggiat Komunitas Lereng Medini yang berdiri sejak tahun 2008, Heri menceritakan bahwa seiring bertambahnya usia komunitas, ia bersama rekan-rekan kolektif lain berusaha untuk terus menghadirkan ruang berproses lewat varian acara yang baru.

“Kemah Sastra menjadi bagian dari variasi. Namun tiga tahun terakhir libur karena pandemi, kami berpikir untuk membuat serangkain acara alternatif. Dari banyak masukan yang diterima, akhirnya bisa menggelar Parade Obrolan Sastra, Kendal Novel Awards, dan kali ini Residensi Akhir Pekan,” tuturnya.

Meskipun sifatnya insidental, ia berharap semoga kegiatan ini bisa berkala dan tidak terjebak dengan acara yang monoton tapi selalu ada kebaruan ide, gagasan, dan perpaduan kegiatan yang saling berkolaborasi satu sama lain.

“Kami menganggap hal-hal yang semacam ini perlu. Pergerakan ini semacam ruang asah, asih, asuh di antara kawan-kawan untuk saling menjalin hubungan serta sama-sama belajar dan berpikir di jalan sunyi masing-masing,” tutupnya.

Nafas Panjang

Peserta Residensi, Iwan Arifianto menyebut acara sangat bermanfaat terutama bagi para peminat, dan penikmat sastra termasuk dirinya yang memiliki basic seorang jurnalis.

Kendati berprofesi sebagai jurnalis, ia mengaku, berminat mengikuti kelas sastra tersebut guna menambah wawasan untuk dijadikan bekal penunjang profesinya yang tak bisa dilepaskan dari dunia tulis menulis.

“Ruang residensi menjadi wadah yang tepat bagi semua kalangan untuk belajar secara serius, saya sebagai jurnalis kriminal menjadi sadar bahwa saya memiliki modal yang melimpah untuk bersastra, lewat kejadian dan fenomena yang bersinggungan dengan diri saya,” ungkapnya.

Ia pun berharap, ruang-ruang semacam residensi yang digalakan oleh Komunitas Lereng Medini serta kawan-kawan komunitas dan kolektif lainnya bisa memiliki nafas yang panjang.

“Harus terus dilanjutkan, tak hanya mewujud ruang sastra belaka tapi sebagai tempat untuk bertumbuh bersama,” ujar jurnalis Tribun Jateng itu sembari menyulut rokok filternya sebelum menghisapnya dalam-dalam.

Reporter: Fikri Thoharudin
Editor: Oktaviani Elly M

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

PALING BARU

PALING POPULER